Melihat Aktivitas SMP Terbuka Gratis TKBM Al-Furqon di Cihideungilir (2-Habis)
Meskipun terbilang sekolah gratis, materi pendidikan di tempat kegiatan belajar mengajar (TKBM) Al-Furqon tetap mengacu pada kurikulum Dinas Pendidikan Nasional (Diknas). Pengajar punya cara tersendiri dalam menyampaikan ilmunya kepada anak didik. Seperti apa metode pembelajaran di sekolah gratis itu?
Jarum jam sudah menunjukkan pukul 07:00 WIB. Para siswa dengan mengenakan seragam rapi langsung masuk dan menempati tempat duduk masing-masing.
Tak lama kemudian, seorang wanita berjilbab dan seorang pria berseragam batik merah masuk ke halaman Masjid Al-Furqon yang disekat dengan tripleks. Di sinilah kegiatan belajar dilakukan. Kedua orang tersebut adalah guru tetap di TKBM Al-Furqon.
Berbeda dengan sekolah lainnya, para siswa di sini tak langsung membuka buku. Mereka memulai pelajaran dengan conversation atau percakapan antara guru dan murid. Para siswa di sekolah ini juga diwajibkan menghafal hadis-hadis Alquran terlebih dahulu serta diharuskan melaksanakan salat Dhuha.
“Sebelum memulai pelajaran, kami mewajibkan siswa menghafal hadis-hadis dan melaksanakan salat Dhuha. Ini dilakukan sebelum pemberian materi pelajaran,” ujar guru tetap TKBM Al-Furqon Nurdiyati Rahmi.
Memang, sekolah rintisan warga Desa Cihideungilir, khususnya warga Taman Dramaga Permai dan kades desa tersebut, merupakan sekolah berbasis agama. Meskipun begitu, metode pembelajarannya sama seperti sekolah lainnya.
Menghasilkan lulusan terbaiknya, pihak sekolah memberikan jam pelajaran tambahan yang dilakukan pada Sabtu. Yakni, pengayaan materi bidang studi untuk Ujian Nasional (UN), seperti matematika, IPA, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.
Hebatnya, pengajar yang memberikan pengayaan ilmu ini berasal dari kalangan akademisi seperti dosen dan mahasiswa. Orang-orang yang diperbantukan menjadi guru bantu juga berasal dari Institut Pertanian Bogor (IPB) yang notabene merupakan orang-orang berkualitas dan berpengalaman di bidang pendidikan.
“Kami memiliki beberapa guru bantu dan mereka berasal dari kalangan akademisi terkemuka seperti IPB,” ujar Nurdiyati.
Sementara Kades Cihideungilir Atang Suryadimulya menuturkan, adanya sekolah gratis ini sangat membantu anak-anak putus sekolah. Apalagi, pendidikan di daerahnya masih sangat dibutuhkan.
Dia juga sangat berterimakasih kepada donatur yang ikut terlibat dalam pendirian sekolah gratis tersebut. Meskipun gratis, sekolah ini tetap menginduk kepada SMPN yang ada di Kecamatan Ciampea.
“Saya sangat berterimakasih kepada warga Cihideungilir, khususnya warga Perumahan Taman Dramaga Permai. Ini membuktikan mereka sangat mendukung pengembangan pendidikan di daerah ini,” katanya.(*)
(Diky Wahyudi)
sumber : radar-bogor.co.id